Bayan Akan Investasi Rp3,2 Triliun Tahun Ini, Untuk Apa Saja?

Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

 PT Bayan Resources Tbk (BYAN) akan menganggarkan belanja modal atau Capital Expenditure (Capex) di tahun 2023 ini sebesar US$ 220 juta hingga US$ 250 juta atau setara dengan Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,6 triliun (asumsi kurs Rp 14.640 per US$).

Target investasi pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja modal di tahun 2022 lalu yang sebesar US$ 207,9 juta setara Rp 3 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan BYAN Jenny Quantero mengungkapkan bahwa target belanja modal perusahaan di tahun 2023 ini nantinya akan digunakan salah satunya untuk proyek perluasan area tambang batu bara.

“Capex tahun ini kita akan belanjakan sebesar US$ 220 juta,” ungkapnya dalam Public Expose BYAN, Kamis (27/4/2023).

Seperti diketahui, BYAN saat ini tengah membangun konstruksi jalan pengangkutan batu bara baru ke Sungai Mahakam sepanjang 101 kilo meter (km). Selain itu, BYAN juga tengah membangun fasilitas pemuatan tongkang baru di Sungai Mahakam.

Jenny juga memaparkan bahwa realisasi penggunaan belanja modal di tahun 2022 lalu tidak mencapai total budget yang disediakan oleh BYAN sebesar US$ 267 juta atau setara Rp 3,9 triliun.

Total pengeluaran capex terbesar di tahun 2022 lalu dialokasikan pada biaya pengupasan tanah dan pertambangan. Dilanjutkan pada alokasi biaya pengangkutan, beban produksi, pembelian batu bara, royalti, beban SGA, pengangkutan batu bara, dan beban karyawan.

Perlu diketahui, produksi batu bara Bayan pada 2022 mencapai 38,9 juta ton, naik 3,5% dari produksi 2021 yang sebesar 37,6 juta ton. Sementara penjualan batu bara pada 2022 tercatat mencapai 39,9 juta ton, turun dari 40,4 juta ton pada 2021.

Harga jual rata-rata batu bara BYAN selama 2022 tercatat mencapai US$ 117,9 per ton, melonjak 67% dibandingkan harga jual rata-rata batu bara pada 2021 yang tercatat US$ 70,7 per ton.

Adapun biaya tunai rata-rata pada 2022 mencapai US$ 42,5 per ton dari US$ 27,5 per ton pada 2021.

Dampaknya, pendapatan perusahaan pada 2022 melonjak 65% menjadi US$ 4,70 miliar dari US$ 2,85 miliar pada 2021 lalu. Adapun laba tahun berjalan pada 2022 tercatat melonjak menjadi US$ 2,30 miliar dari US$ 1,26 miliar pada 2021 lalu.

Pada 2023 ini, perusahaan menargetkan produksi batu bara bisa mencapai 42-48 juta ton.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*